Diskan Batam: Kabut asap pengaruhi aktivitas nelayan tradisional

Beberapa kapal nelayan tradisional 1-3 GT bersandar di dermaga Pulau Kasu di Batam, Kepri. ANTARA/Amandine Nadja.

Diskan_Batam – Dinas Perikanan (Diskan) Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), menyebut kabut asap mulai memengaruhi aktivitas penangkapan ikan nelayan tradisional, terutama saat memasang dan mengangkat jaring.

Kepala Diskan Batam Yudi Admajianto mengatakan dampak tersebut terutama dirasakan nelayan yang menggunakan alat tangkap manual dan mengandalkan penglihatan untuk menentukan posisi jaring maupun pelampung di laut.

“Dari aspek kenelayanan, dalam operasional menangkap ikan ada pengaruhnya, terutama bagi nelayan yang menggunakan alat penangkapan ikan tertentu,” kata Yudi saat dihubungi di Batam, Senin.

Di Batam, kabut asap mulai meningkat secara signifikan pada 6 Oktober dengan Air Quality Indeks (AQI) mencapai angka 130. Angka tersebut sempat memuncak pada 14 Oktober di angka 217.

Ia menjelaskan, nelayan jaring tenggiri atau drift gill net menjadi salah satu kelompok yang terdampak.

“Dengan jarak pandang di laut sekitar 110 meter, nelayan kesulitan menentukan posisi pemasangan jaring, serta membaca arus saat menurunkan dan mengangkat jaring,” katanya menjelaskan.

Dampak serupa dialami nelayan pancing rawai atau bottom long line, khususnya yang tidak memasang lampu pada pelampung tali rawai.

“Kondisi ini menyulitkan mereka melihat penanda lokasi saat hendak mengangkat alat tangkap. Selain itu, nelayan yang menggunakan bubu ikan atau portable trap juga berpotensi mengalami kendala,” kata Yudi.
Ia mengatakan asap menghalangi penglihatan terhadap tanda-tanda alami yang biasa digunakan untuk mengenali lokasi penempatan bubu saat pengangkatan hasil tangkapan.

Wali Kota Batam Amsakar Achmad Bersama Kepala Dinas Perikanan Kota Batam Yudi Admajianto Saat Launching Tim Cakalang

Namun, penggunaan perangkat Global Positioning System (GPS) dapat membantu mengatasi kendala tersebut.

Yudi menyebut dampak kabut asap lebih terasa pada kapal nelayan tradisional berukuran 1-3 gross tonnage (GT), terutama yang memasang dan menarik jaring tenggiri secara manual tanpa alat bantu penarik jaring (net hauler).

“Kalau yang di Kampung Nelayan Merah Putih Sembulang, ada kapal bantuan Transmigrasi, kapal 5 GT, yang sudah memiliki alat penarik jaring dan GPS. Mungkin ada pengaruhnya juga (kabut asap) tetapi kecil, terutama terkait jarak pandang,” ujarnya.

Yudi mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi dari nelayan mengenai kendala akibat kabut asap tetapi timnya sudah berkomunikasi langsung dengan nelayan di wilayah Belakangpadang.

“Sudah sekitar satu pekan ke belakang,” katanya.

Ia menambahkan, sejauh ini kabut asap dinilai belum terlalu mengganggu keselamatan pelayaran nelayan karena kapal yang digunakan bergerak relatif lambat.

“Untuk imbauan terkait efektivitas melaut akibat dampak asap secara resmi belum ada. Sedangkan untuk keselamatan nelayan berlayar di laut, kami menunggu imbauan dari instansi berwenang, yaitu KSOP (Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan),” katanya.

Sumber : AntaraNews